Motivated your self, inspire others!

Senin, 17 Maret 2014

  • Kamarku

    Semua berawal dari sini. Yaa, paling tidak setahun belakangan ini. Jika emosi seperti air, maka kamarku sudah seperti kolam renang bahkan mungkin bendungan. Karena disinilah aku menumpahkan semua emosiku.
    Selain tuhan dan malaikat, dia adalah teman yang paling tahu segalanya tentangku. Karena aku tak bisa merhasiakan satu hal pun kepadanya. Dan aku yakin dia adalah sepandai-pandainya penyimpan rahasia. Bahkan jika nanti aku berpisah dengannya.
    Malam ini pun aku terjaga bersama dia. Pasti dia tahu segala hal yang aku kerjakan malam ini.

  • Rabu, 01 Januari 2014

  • Perbincangan di Persimpangan Jalan

    Awal 2014, aku masih sering menemukan kebingungan. Kebingungan yang tidak hanya di kepala, tapi lebih jauh dari itu menghujam dalam hati. Mengalir dalam darah di urat nadi. berdesir bersama nafas-nafas tersenggal. Kebingungan yang seringkali tidak disadari ternyata begitu membahayakan. Mempengaruhi nilai, norma, sikap, dan cara berfikir seseorang. Menggerogoti masa depanmu dengan perlahan. Sedikit demi sedikit. Tapi nyata. Sistemik. Radikal. bahkan sporadis. Menyerang elemen kehidupan manusia yang sangat fundamental. Ya sangat - sangat fundamental. Aku rasa tak perlu memperjelas hal fundamental seperti apakah itu? karena aku tahu kau tahu akan hal itu. mengerikan sekali bukan?
    karena kebingunan ini akan merenggut hal yang paling berharga dari seorang manusia. Ketika hal ini hilang dari diri manusia, maka manusia itu pun hilang. 
    Waspadalah kawan dengan kebingungan semacam ini. Karena dia tidak menyerang sesuatu yang langsung kau rasakan sakitnya. Bahayanya adalah bahaya laten. berbisik-bisik tapi merobek gendang telingamu. Dia tidak langsung mencongkel matamu. Dia tidak langsung menyayat lidahmu. Dia tidak menghantam telingamu. Dia tidak menguliti tubuhmu. Dia tidak mencocok hidungmu. Bahkan, sama sekali tidak mencabut satupun bulu kudukmu.
    Bahayanya lebih besar dari semua hal diatas kawan. Bahaya seperti apakah itu? kepala yang terpenggal? Isi perut yang tercabik-cabik? atau jantung yang terbagi dua? Bukan, bukan dari semua itu. ini lebih berbahaya. Lebih sakit dan menyakitkan.
    karena kebingunan ini akan merenggut hal yang paling berharga dari seorang manusia. Ketika hal ini hilang dari diri manusia, maka manusia itu pun hilang. Yang ada hanya setan atau binatang atua paling tidak menjadi seonggok sampah yang tidak berguna. kau pasti tau apa hal itu. Ya itu, itu yang kau maksud.
    Jangan khawatir kawan, aku tidak menakutimu tanpa alasan. Aku tidak menjerumuskanmu tanpa memberikan pertolongan. Aku menakutimu agar kau tahu rasa takut. Aku menjerumuskanmu agar kau tahu rasa sakit. Semuanya aku lakukan agar kau sadar akan apa yang terjadi. bukan sekedar tahu.
    Sekali lagi kukatakan, sekarang janganlah khawatir lagi. aku sudah menyediakan penawar dari kebingungan yang kubicarakan tadi. Lain kali kita lanjutkan perbincangan kita ini. Sementara waktu cobalah kau fikir ulang apa yang kukatakan tadi. dan rabalah dirimu, adakah kebingungan semacam ini dalam kehidupanmu. Atau jangan - jangan kau malah bingung dengan apa yang aku katakan?

    Bogor, 1 januari 2014
    Di jalan setapak menuju keabadian 
  • Senin, 16 Desember 2013

  • I love you morning

    I Love You Morning

    Aku tahu kau selalu datang tiap hari
    dengan rela menyapa setiap orang yang ada di dunia ini
    ya..semuanya..
    tanpa pandang bulu
    aku merindukan yang lain menjadi sepertimu

    I love you morning

    Aku tahu kau tidak pernah bohong
    selalu memberi kehangatan ketika cerah
    memberi dingin kala mendung
    kau berekspresi apa adanya
    aku merindukan yang lain menjadi sepertimu

    I love you morning

    Andai semua hal yang ada pada dirimu ada pada yang lain
    tentu aku pun mencintai yang lain seperti mencintai mu
    pagi, bantu aku mencintai yang lain seperti mencintaimu

    I love you morning

    Selamat pagi kota hujan :)

  • Pemuda : Sekali berarti, setelah itu mati

    Dulu, dengan gagah bung karno pernah berkata, “berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku goncang dunia”. Sekarang, untuk menyesuaikan dengan keadaan zaman, supaya bisa up to date, dan laku dipasaran, kalimat itu sedikit di rubah menjadi “berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku bentuk boys band”.
    Sebuah paragraf awalan yang bisa menjadi representasi dinamika dunia kepemudaan bangsa ini. Mewakili realita perubahan respon pemuda terhadap ‘tantangan zaman’ yang sesungguhnya lebih luas dan signifikan. Bagaimana di era globalisasi ini tidak sedikit pemuda yang sudah berbeda gayanya dengan pemuda tempo doeloe. Pemuda di masa awal reformasi, orde baru, orde lama, atau bahkan masa penjajahan.
    Dulu pemuda kumpul di rumah teman sejawatnya, di tengah temaram lampu minyak, berbisik-bisik, mendiskusikan keresahannya terhadap kemerdekaan bangsa yang tak kunjung diproklamirkan. Berbeda dengan cerita semalam kemarin, muda-mudi kongkow di sudut kafe, di tengah gemerlapnya lampu disko, berteriak-teriak bersaing dengan bunyi drum dan gitar, “mendiskusikan” keresahannya terhadap baju impor ala artis korea yang tak kunjung didapatkannya.
    Juga, jika dulu di masa penjajahan para pemuda rela mengorbankan harta, jiwa dan fikirnya untuk meledakkan gudang senjata belanda atau menancapkan bambu runcing di dada penjajah jepang maka sekarang para pemuda juga rela memberikan segenap harta, jiwa, dan fikirnya untuk sekedar nyalon, nyanyi-nyanyi ga jelas atau bahkan nyabu. Memperkaya orang lain dan memiskinkan diri sendiri. Miskin harta, miskin ilmu, dan miskin moral. Perlu diketahui bahwa ada sebuah catatan luar biasa  ketika pendapatan industri K-pop korea mencapai $ 3.4 Miliar pada tahun 2011 (CNBC.com). Salah satu konsumennya adalah pemuda Indonesia bukan? Lalu, untuk industri kebudayaan negeri sendiri, bagaimana?
    Teringat juga cerita ketika zaman orde baru, menjelang awal reformasi. Para pemuda lintas pulau lintas provinsi saling berkirim surat. Secarik surat undangan untuk konsolidasi, demi menyamakan persepsi tentang keadaan dan kinerja pemerintahan yang korup pada saat itu dengan bahasa yang tandas dan jelas. Hingga akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pemuda harus bergerak menduduki gedung DPR, mengepung istana negara, dan meneriakan mandat rakyat demi menurunkan rezim pemerintah dari kursinya. Berbeda halnya dengan realita kebanyakan pemuda saat ini, dengan semangatnya, muda-mudi chatting-an, efbe-an, twiter-an, dengan bahasa yang alay dan lebay. Sampai lupa bahwa ada kehidupan nyata di luar sana. Lupa dengan pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai dikerjakan oleh abang-abang pendahulunya.
    Sesungguhnya bukan teknologinya yang salah. Teknologi ada untuk mempermudah manusia untuk berdiskusi meningkatkan kepekaan batin terhadap kondisi negeri. Kecepatan komunikasi ditingkatkan untuk mempermudah manusia mengeksplorasi informasi tentang dinamika ekonomi, sosial, politik, dan iptek dunia. Bukan sekedar untuk obrol ringan tanpa makna. Janganlah disorientasi dan salah arah!!
    Kita tahu jalan juang sejarah bangsa ini penuh dengan darah dan peluh para pemuda. Tanggal 20 Mei 1908, ibu pertiwi menjadi saksi berdirinya organisasi boedi oetomo. Sebagai percikan api, pemantik ledakan pergerakan nasional di Indonesia. Sebuah organisasi yang didirikan oleh pemuda-pemuda terpelajar yang resah akan eksistensi bangsanya masa itu. Lanjut lagi ketika momentum sumpah pemuda, 28 Oktober 1928 ketika pemuda-pemudi indonesia mendeklarasikan jati diri bangsanya yang terangkum dalam tiga poin : bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Indonesia. Selanjutnya, pemuda lagi, pemuda lagi, dan lagi-lagi pemuda. Sejarah bangsa ini tak pernah lepas dari sejarah pemudanya.
    Pemuda saat ini mendapatkan cerita tentang jalan juang pemuda tempo doeloe yang gagah berani dari abang-abang pendahulu yang mengalami sejarahnya. Dan malu rasanya jika masa depan nanti, ketika pemuda sekarang menjadi abang-abang bagi pemuda di masa depan dan menceritakan sejarah pemuda semasanya yang alay lebay.
    Apa sebenarnya yang salah dengan pemuda di negeri ini?
    Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menyebabkan virus ke-alay-an meraja lela di kalangan para pemuda. Aromanya merasuk dan merangsak ke dalam rongga jiwa pemuda harapan bangsa. Rasanya sudah terasa walaupun tidak terkecap lidah manusia. Pertama, arus globalisasi yang tidak di imbangi dengan kontrol sosial dari lingkungan sosialnya. Lingkungan yang paling berpengaruh adalah lingkungan keluarga. Ketika arus informasi luar masuk dengan begitu hebatnya, lingkungan keluarga tidak siap menjadi filter bagi para pemuda. Akibatnya arus informasi pun masuk dan tak terbendung lagi.  Selain itu, salah persepsinya pemuda terhadap istilah up to date. Tak bisa dipungkiri bahwa perubahan suatu kelompok berawal dari perubahan individu-individu pembentuknya. Istilah up to date yang diartikan melihat, memahami, dan menerapkan adalah konsep pemahaman yang salah. Seharusnya up to date ini difahami sebagai proses dari melihat, memahami, membandingkan dengan identitas asli bangsa Indonesia. Baru jika hal itu sesuai bisa diterapkan. Jika tidak, urusan lain jadinya. Terakhir karena kurangnya sosialisasi tentang identitas bangsa Indonesia dari para pemangku kebijakan negara ini. Bukan hanya identitas dalam arti nama atau wawasan nusantara. Lebih dari itu identitas ideologi, identitas ekonomi, dan identitas sosial budaya bangsa Indonesia. Identitas ideologi bangsa ini adalah ideologi pancasila. Identitas ekonomi bangsa ini adalah ekonomi berasas kekeluargaan. Identitas sosial budaya bangsa ini adalah gotong royong, sopan santun dan ketimuran.
    Saat ini, di titik ini. Perlu ditekankan. Cukup sudah cerita ini, semuanya masih belum terlanjur, semuanaya masih bisa berubah. Sebuah pepatah arab berbunyi “likulli marhalatin rijaaluha”, setiap zaman ada pahlawannya, setiap zaman ada pejuangnya. Beda zaman beda tantangan. Jika dulu para pemuda berjuang mengantarkan rakyat indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan indonesia, maka sekarang sejatinya peran pemuda adalah membawa rakyat indonesia memasuki pintu gerbang kemerdekaannya dan menikmati udara kebebasannya dengan karya-karya inovasi yang menyejarah.
    Rakyat bangsa ini merindukan pemuda yang terus berkarya penuh semangat. Seperti kata chairil anwar, pemuda yang terus maju. Sekali berarti. Setelah itu mati !!!    
  • Copyright @ 2013 Insightist.